Saya sempat berfikir teman teman melihat berita dari sliweran yang katanya pekerjaan tenaga I.T apalagi dalam bidang pemograman hancur karena adanya Ai, masuk akal juga sih.. dulu saya merasakan sendiri untuk belajar membuat coding dan mengetik coding sangatlah ribet..padahal hanya salah tanda titik (.) hancur Nira Sebelangga. Sedangkan bila dibandingkan dengan era sekarang dimana Ai dengan mudah membuat coding hanya dalam menit bahkan detik malah..Amazing!
Nah, ulasan kali ini saya bertanya langsung ke Mode Ai google, langsung saja ulasannya. Cekidot wae..
![]() |
| Ilustrasi gambar Mode Ai pekerjaan tenaga I.T hancur karena adanya Ai? |
Saya: Ai, benarkah pekerjaan tenaga I.T apalagi dalam bidang pemograman hancur karena adanya Ai?
Mode Ai: Tidak benar bahwa pekerjaan programmer hancur total karena AI. Hal yang benar adalah karakter pekerjaan programmer sedang berubah drastis, bukan menghilang.
- Pekerjaan Kodifikasi Dasar (Low-Level Coding): Tugas-tugas menulis kode sederhana, membuat fungsi dasar, atau sekadar membuat komponen UI standar yang berulang-ulang kini sudah bisa dikerjakan AI dalam hitungan detik.
- Programmer "Copy-Paste": Software engineer yang hanya mengandalkan salin-tempel kode dari situs seperti Stack Overflow tanpa memahami logikanya akan sangat mudah digantikan oleh AI.
- AI Tidak Punya Konteks Bisnis: AI bisa menulis kode, tetapi AI tidak mengerti masalah bisnis unik yang dihadapi sebuah perusahaan. Manusia tetap dibutuhkan untuk menerjemahkan kebutuhan klien menjadi arsitektur sistem.
- Keterbatasan Logika dan Pemecahan Masalah (Problem Solving): AI sering kali mengalami "halusinasi" (membuat kode yang terlihat benar padahal salah atau memiliki celah keamanan). Hanya programmer manusia yang memiliki intuisi untuk mendeteksi bug rumit dan mengoptimalkan sistem skala besar.
- Komunikasi dan Kolaborasi: Pembuatan aplikasi berskala besar membutuhkan kerja sama tim, negosiasi dengan manajemen, dan empati terhadap pengguna (User Experience). AI tidak memiliki kemampuan sosial ini.
- AI Engineer / Prompt Engineer: Ahli yang bertugas mengintegrasikan model AI ke dalam aplikasi perusahaan.
- Data Scientist & Machine Learning Specialist: Orang yang melatih, membersihkan data, dan mengoptimalkan model AI agar bekerja akurat.
- Cybersecurity Specialist: Kehadiran AI membuat ancaman peretasan semakin canggih, sehingga tenaga ahli keamanan digital justru semakin dicari untuk melindungi sistem perusahaan.
- Pemanfaatan AI API: Menguasai cara mengintegrasikan, mengamankan, dan mengelola biaya pemanggilan API dari penyedia model besar seperti OpenAI, Anthropic (Claude), atau Google Gemini. [1]
- Framework AI (LLM Orchestration): Mempelajari pustaka (library) modern seperti LangChain atau LlamaIndex untuk membangun aplikasi berbasis teks pintar (AI agents atau chatbots canggih).
- Vector Databases: Memahami basis data khusus AI seperti Pinecone atau Chroma untuk menyimpan informasi jangka panjang yang digunakan oleh sistem AI.
- AI-First Tools: Mahir menggunakan lingkungan pengembangan (IDE) modern berbasis AI seperti Cursor atau fitur asisten coding seperti GitHub Copilot dan Claude Code. []
- Prompt Engineering Spesifik Kode: Keahlian merumuskan instruksi yang sangat terstruktur, jelas, dan aman agar AI memproduksi potongan kode yang akurat tanpa celah keamanan (bug). [1, 2]
- Cloud & DevOps: Memahami layanan komputasi awan (seperti AWS, Google Cloud, atau Azure) serta alat otomatisasi infrastruktur seperti Docker dan Kubernetes. [1]
- Microservices & API Design: Kemampuan memecah aplikasi besar menjadi komponen-komponen kecil yang mandiri agar sistem tidak mudah tumbang saat diakses jutaan pengguna secara bersamaan. [1]
- Bahasa Pemrograman Utama: Memperdalam Python dan SQL. Python adalah bahasa standar emas (gold standard) di ekosistem kecerdasan buatan karena kelengkapan pustaka data analitiknya. [1, 2, 3]
- Pembersihan Data (Data Wrangling): Keahlian mengumpulkan, memilah, dan membersihkan data mentah agar siap digunakan untuk melatih atau mengoptimalkan akurasi model AI. [1, 2]
- Validasi Kode: Karena AI sering kali mengalami "halusinasi" (membuat kode fiktif yang salah), Anda wajib memiliki logika yang kuat untuk membaca, menguji (testing), dan memvalidasi kebenaran kode hasil buatan AI tersebut.
- Pemahaman Konteks Bisnis: Kemampuan mendengarkan kebutuhan klien secara mendalam, lalu menerjemahkannya ke dalam solusi digital yang efisien—sesuatu yang sama sekali tidak dimiliki oleh AI. [1, 2, 3]
- Kenapa Python? Karena bahasanya sangat mirip dengan bahasa Inggris sehari-hari, sangat mudah dibaca oleh pemula, dan merupakan bahasa utama yang digunakan di dunia AI.
- Anda tinggal mengetik instruksi dalam bahasa Indonesia biasa (misalnya: "Buatkan kode Python untuk menghitung diskon belanja"), dan AI akan menuliskan kodenya untuk Anda.
- Tugas Anda di awal hanyalah belajar cara membaca dan memahami maksud dari kode yang dibuat oleh AI tersebut.
Semoga artikel tentang "Benarkah pekerjaan tenaga I.T apalagi dalam bidang pemograman hancur karena adanya Ai?" bermanfaat untuk teman teman blogger semua. Salam Ngerapik Blog!


