💥 BREAKING NEWS
Memuat 50 berita terbaru...

Hebatnya Teknologi dari terciptanya Marketplace Besar Di Indonesia

Saya sangat mengagumi apa yang tercipta dari Sebuah Marketplace. Desaign webiste yang futuristik, elegan, dan kerumitan didalamnya. Ingat dulu waktu Bukalapak Marketplace ada, dengan tampilan Merah Muda yang elegan, bagaimana rumit dan jelimetnya Ahmad ZAki serta plot didalamnya pastinya saat itu mencari pengembangan untuk bergabung membesarkan Bukalapak. lalu muncul Tokopedia, Shopee, BliBli. Lazada, serta Brand Platform Marketplace raksasa lainnya.

Pertanyaannya, APakah mereka membangun menggunakan CMS?

Berikut dibawah ini Ulasan dari AI.. Cekidot Wae..!

Saya: "Hai Ai, saya mau bertanya.. Apakah Platform raksasa seperti Tokopedia, Shopee, dan Blibli membuat Marketplace nya menggunakan CMS?"

Ai:  Sama sekali bukan. Platform raksasa seperti Tokopedia, Shopee, dan Blibli Mereka membangun seluruh sistem mereka dari nol (custom development) menggunakan teknologi berskala besar yang disebut Arsitektur Microservices. [1, 2]

Saya"Mengapa Mereka Tidak Pakai CMS?"

Ai: "Jika dipaksakan menggunakan CMS, website mereka akan langsung mogok (crash).

Berikut alasannya:
  • Jumlah Pengguna Fantastis: CMS didesain untuk menangani ribuan hingga belasan ribu pengguna bersamaan. Sementara Tokopedia atau Shopee harus melayani jutaan orang yang bertransaksi secara bersamaan, terutama saat event Flash Sale atau promo tanggal kembar (misal 11.11). [1]
  • Keamanan Tingkat Tinggi: Karena mengelola perputaran uang miliaran rupiah setiap detiknya, mereka membutuhkan sistem keamanan yang sangat spesifik dan berlapis, bukan keamanan standar bawaan plugin CMS. [1]
  • Fitur yang Sangat Rumit: Sistem pelacakan gudang digital, algoritma rekomendasi AI produk, hingga sistem dompet digital (seperti GoPay atau ShopeePay) tidak akan sanggup ditampung oleh CMS biasa. [1, 2, 3]
Apa yang Mereka Gunakan? (Dapur Teknologi Mereka)
Alih-alih satu aplikasi CMS utuh, sistem mereka dipecah menjadi ribuan aplikasi kecil (microservices) yang saling bekerja sama. Sebagai gambaran, berikut bocoran teknologi (tech stack) di balik platform tersebut: [1, 2]
  1. Bahasa Pemrograman Gabungan
    Mereka menggabungkan banyak bahasa sesuai kebutuhan khusus. Misalnya, Go (Golang) dan Java untuk memproses data transaksi super cepat di bagian belakang (backend), Python untuk kecerdasan buatan/AI pembaca minat pembeli, serta JavaScript (React / Vue) untuk membuat tampilan aplikasi dan web yang mulus di depan (frontend).
    [1, 2, 3, 4]
  2. Sistem Database Raksasa
    Mereka tidak memakai satu database seperti CMS pada umumnya. Mereka mengombinasikan MySQL, PostgreSQL, hingga database super cepat seperti Redis dan MongoDB untuk menyimpan jutaan data produk dan akun pengguna secara instan.
    [1]
  3. Infrastruktur Cloud (Awan)
    Mereka menyewa superkomputer berskala global seperti Google Cloud Platform (GCP) atau Amazon Web Services (AWS) agar server mereka otomatis membesar sendiri saat pengunjung melonjak demi menghindari web menjadi down.
    [1, 2, 3]

Membangun sistem seperti mereka membutuhkan biaya miliaran rupiah per bulan dan ratusan insinyur IT (programmer). [1, 2, 3]

Saya: "Woww.. Terimakasih Ai atas ulasan dan Informasinya. Kami yang kecil kecil ini berkarya menggunakan CMS sajalah..ckckck.. Salam Ngerapik Blog Ai.."

Ai: "Sangat Tepat pilihan Anda! bagi kita yang baru memulai bisnis atau membuat platform marketplace skala menengah, menggunakan CMS seperti WordPress adalah keputusan yang paling bijak dan realistis karena hemat biaya dan efisien. Jika nanti bisnis Anda sudah bernilai miliaran dan modalnya besar, barulah Anda bisa merekrut tim programmer untuk merombaknya dari nol"  

Posting Komentar

[buka_aplikasi_komentar]

Lebih baru Lebih lama